Sri Lanka Tawarkan Zona Bebas Pajak di Bandara

March 18, 2013 1:55 amComments OffViews: 5

Pembicaraan sedang berlangsung mengenai cara mengatur perawatan pesawat, perbaikan dan beberapa operasional pemeriksaan di bandara yang dibangun dengan biaya 209 juta dolar dan terletak dekat cagar alam di tenggara kepulauan tersebut, kata Kepala Bandara Prasanna Wickremasuriya kepada AFP.

Bandara ini dapat menampung Airbus A-380, pesawat layanan penumpang terbesar, dan merupakan bagian dari rencana ambisius untuk mengubah distrik Hambantota, kediaman konstituensi Presiden Mahinda Rajapakse, menjadi ibu kota komersial baru Sri Lanka.

“Kita bisa menjadi pusat regional untuk perawatan pesawat. Negosiasi sedang berlangsung dengan operator besar Eropa untuk mendirikan fasilitas di Mattala,” kata Wickremasuriya.

Bandara dan lingkungan di sekitarnya, sekitar 1.000 hektare, sedang ditetapkan sebagai zona bebas bagi investor asing dan lokal untuk pengaturan gudang, hanggar pemeliharaan dan industri lainnya, kata Wickremasuriya.

Pengerjaan Mattala International airport (MIA) dimulai pada 2011, yang terletak di distrik Hambantota, tapi kemudian mengalami perubahan nama menjadi Mahinda Rajapakse International Airport (MRIA).

Penerbangan pertama akan dioperasikan oleh maskapai nasional, Sri Lanka Airlines.

Bank Ekspor-Impor China mendanai bandara yang dapat menangani satu juta penumpang per tahun itu. China juga mendanai pelabuhan laut 1,5 miliar dolar yang dibuka untuk pengiriman komersiala di Hambantota tahun lalu.

Armada asing pertama yang terbang ke MRIA adalah Air Arabia. Air Arabia telah diumumkan terbang dua kali sepekan ke Sharjah dari Mattala, sekitar 270 kilometer (168 mil) selatan Colombo.

Fly Dubai, perusahaan penerbangan murah dari Emirates, juga akan mulai beroperasi dalam beberapa bulan.

Bandara ini awalnya dimaksudkan sebagai bandara bagi pekerja migran yang dipekerjakan di Timur Tengah karena hampir 30 persen dari mereka yang bepergian ke luar negeri untuk bekerja dari Sri Lanka, berasal dari distrik tetangga bandara.

“Kami melihat potensi yang besar untuk pariwisata karena bandara dekat taman satwa liar,” kata Wickremasuriya.

Mattala awalnya direncanakan sebagai perluasan dari lapangan terbang militer berukuran kecil Wirawila, namun Wickremasuriya mengatakan mereka menggeser lokasi 25 kilometer (16 mil) untuk memastikan tidak mengganggu petani lokal. (IN-25/Ant)

Dibaca (47) Kali

You might also likeclose